Untuk Mas Fery (Abu Fadhilah) thanks, atas atensinya dalam mencarikan dalil tentang jenggot…
Untuk menanggap dalil-dalil dan keterangan Mas Fery (Abu Fadhilah) ada beberapa hal yang dapat kami simpulkan :
- Kurangnya Mas Fery (Abu Fadhilah) dalam memahami sebuah bahasa dalam sebuah Hadist.
- Cara menggabungkan dalil-dalil yang kurang tepat dengan bahasan tentang jenggot, Al-Hasyr : ayat 7, Annur :ayat 63, Al-A’rof 171, An-nisa’:13-14,…dalil-dalil diatas adalah dalil tentang pembahasan perintah Alloh secara global/secara umum, tidak ada hubungannya dengan Jenggot. dan jangan di hubungkan dengan Surat Al-A’rof Ayat 171 yang jelas-jelas tidak ada hubungannya.
- ada kesan Mas Fery memaksakan pendapatnya supaya hukumnya Jenggot menjadi Wajib.
- Walaupun seribu dalil tentang Jenggot Mas Fery keluarkan tidak ada 1 pun dalil tentang sangsi/ancaman bagi pencukur Jenggot.
* Apalah artinya hafal sejuta dalil tetapi tidak bisa memahaminya dengan benar..
Ingat !!! tidak ada suatu perintah yang diwajibkan oleh Alloh / Rosul bilamana tidak di kerjakan ada ancamannya/sangsinya/hukumya !
Alloh tidak mungkin lupa, Mas Fery (Abu Fadhilah).
sebagai perbandingan : Manusia sebagai mahkluk Alloh yang bisa lupa dan salah… bila membuat peraturan wajib tidak akan lupa membuat sangsinya, hukumannya apabila peraturan tersebut di langgar… Apalagi Alloh apabila membuat peraturan Wajib pastilah Alloh membuat sangsi, ancaman, hukumannya.
dan jangan sampai orang yang tidak punya Jenggot, tidak mengerjakan sholat Sunnah/Puasa Sunnah jangan di artikan Menyelisihi….apalagi sampai dihubung-hubungkan dengan surat Al-Hasyr : 7, Annur :63, Pemahaman yang salah dan terlalu berlebihan.
dan tanggapan komentar untuk Kholil :
pahami pertanyaan di bawah ini :
” Berdo’a sambil mengangkat tangan boleh dilakukan setelah Sholat Sholat apa ? “.
pertanyaan di diatas sungguh pertanyaan yang berlebihan dan terlalu mendramatisirkan sebuah Hadist…
Antara Sholat dengan Berdo’a sambil mengangkat tangan bukanlah suatu rangkaian ibadah/berdo’a yang dimaksud diatas bukanlah rangkaian dari Sholat, Antara Sholat dan Berdo’a yang dimaksudkan diatas adalah Ibadah yang berdiri sendiri. bahkan Rosul sendiri setelah selesai Sholat tidak selalu berdo’a, menunjukkan do’a sambil mengangkat tangan bukanlah rangkaian Sholat.
Kesimpulannya :
1. berdo’a bukan rangkaian Sholat.
2. tidak ada batasan waktu dan situasi apapun dalam berdo’a sambil mengangkat tangan,
3. adab dalam berdo’a adalah sambil mengangkat tangan.
4. antara Do’a dan Sholat jangan dihubung-hubungkan.
Gambarannya dalam sebuah tulisan adalah : ” bahwa tidak ada satu hadistpun yang menerangkan rosul sholat di Indonesia ” ini sudah cukup mewakili dari argumen tentang Do’a sambil mengangkat tangan.
Kenapa sunnah Sahabat tidak di komentari sekalian ..?
Tambahan : Benar Juga apa yang selalu di gambarkan oleh para Ulama-ulama, Memahami Qur’an Hadist dengan Cara Ro’yi seperti gambarannya orang mencari jarum di dalam sebuah Rumah, tetapi tidak ditunjukkan letak persisnya/tepatnya jarum tersebut. Hasilnya maka semua tempat yang ada di rumah akan di acak-acak.



